Nikmat Islam

Nikmat Islam

حَدَّثَنِيْ يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ: وَأَخْبَرَنِيْ عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُوْنُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَايَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَانَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ)).

Telah mengajarkan kepada kami Yunus bin ‘Abdul A’la, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb ia berkata: dan telah mengabarkan kepadaku ‘Amr, sesungguhnya Abu Yunus telah mengajarkannya (‘Amr), dari Abu Huroiroh semoga Allah Ta’ala meridhoinya, dari Rasulullah , beliau bersabda: “Demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya. Tidaklah mendengar tentangku seseorang dari umat ini, baik ia seorang yahudi maupun nashrani, kemudian ia meninggal (dalam keadaan) tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya (agama Islam). Kecuali ia termasuk penghuni neraka.”

Ilmu hadis memiliki beberapa cabang ilmu yang saling berhubungan satu sama lain. Diantaranya ialah ilmu takhrij hadis. Para ulama hadis telah memberikan definisi tentang ilmu tersebut.

  1. kata:

 خَرَّجَ-يُخَرِّجُ-تَخْرِيْجًاyang artinya mengeluarkan.[1]

عَزْوُ الحَدِيْثِ إِلَى مَنْ أَخْرَجَهُ مِنْ أَئِمَّةِ الحَدِيْثِ، وَالكَلَام ُعَلَيْهِ بَعْدَ التَّفْتِيْشِ عَنْ حَالِهِ وَرِجَالِ مُخَرِّجِهِ.

“(Ilmu yang mempelajari tentang) penyebutan hadis dengan ulama yang telah meriwayatkannya, dan juga penjelasan tentang keadan hadis tersebut (diterima atau ditolak) beserta para perawinya setelah melakukan penelitian.”[2]

  • Mukhorij hadis (ulama yang meriwayatkan hadis)

Hadis tersebut diriwayatkan oleh:

  • Imam Muslim[3] di dalam Sahihnya.[4]
  • Imam Ahmad[5] di dalam Musnadnya.[6]
  • Imam Al-Bazar di dalam Musnadnya.[7]
  • Imam Al-Bushiri di dalam kitabnya.[8]
  • Imam Ibn Al-Qathan di dalam kitabnya.[9]

Hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat yang mulia yaitu Abu Huroiroh (semoga Allah Ta’ala meridhoinya). Biografi singkat Abu Huroiroh:

  • Nama: Al-Imam al-Faqih al-Mujtahid al-Hafizh, sahabat Rasulullah ﷺ, Abu Huroiroh ad-Dusi al-Yamani. Telah diperselisihkan tentang namanya. Akan tetapai pendapat yang paling kuat adalah: ‘Abdurrohman bin Shokhor.[10] Dan Yunus bin Bukair telah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, ia berkata: telah mengajarkanku sebagian sahabat kami, dari Abu Huroiroh ia berkata: “Dahulu di zaman jahiliyah namaku adalah ‘Abdu Syams, maka tetkala aku masuk Islam namaku menjadi ‘Abdurrohman. Dan sebab aku mendapat julukan Abu Huroiroh adalah karena aku mendapatkan hirroh (as-Sinnauroh atau kucing betina)[11] maka kuletakkan di lengan bajuku. Kemudian dikatakan kepadaku: Apa ini? Aku menjawab: Hirroh. Sejak itulah aku dijuluki Abu Huroiroh.[12]
  • Keutamaan Abu Huroiroh: Para ulama telah banyak menyebutkan keutamaan yang dimiliki oleh Abu Huroiroh, diantaranya adalah:
  • Imam Bukhori telah berkata: “Telah meriwayatkan (Hadis) darinya (Abu Huroiroh) sekitar 800 ahli ilmu, dan juga beliau merupakan perawi hadis yang memiliki hafalan kuat dizamannya.”[13]
  • Abu Nu’aim telah berkata: “Dia (Abu Huroiroh) adalah sahabat yang paling hafal dengan sabda-sabda Rasulullah ﷺ, Beliau ﷺ juga telah mendoakannya agar dia dicintai oleh orang mukmin…”[14]
  • Ibnu ‘Umar telah berkata: “Abu Huroiroh lebih baik dan berilmu daripada aku dengan apa-apa yang ia sampaikan (hadis).”[15]
  • Tholhah bin ‘Ubaidillah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga telah berkata: “Dan tidak diragukan lagi bahwa ia (Abu Huroiroh) telah mendengar dari Rasulullah ﷺ apa-apa yang tidak kami dengar.”[16]
  • Rasulullah ﷺ juga telah mengaminkan doa Abu Huroiroh. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab Sunan Kubronya:

…ثُمَ دَعَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَقَالَ: اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِثْلَ مَا سَأَلَكَ صَاحِبَاي هَذَانِ وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لَا يُنْسَى، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((آمِيْن))…الحَدِيْث.

“…Kemudian Abu Huroiroh berdoa dengan mengatakan: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seperti apa yang telah diminta oleh kedua sahabatku ini, dan juga aku memohon ilmu yang tidak akan terlupakan, maka Rasululloh bersabda: ((Aamiin))…”[17]

  • Wafatnya Abu Huroiroh: Para ulama sejarah berbeda pendapat dalam menetapkan tahun wafatnya Abu Huroiroh. Hisyam bin ‘Urwah dan ‘Amr bin ‘Ali mengatakan bahwa Abu Huroiroh wafat pada tahun 57 H. Menurut ‘Abdurrohman bin Maghro beliau wafat pada tahun 58 H. Sedangakan menurut al-Waqidi, Abu ‘Ubaid, Abu ‘Umar adh-Dhorir, dan Ibnu Numair beliau wafat pada tahun 59 H.[18] Wallahu a’lam.
  • Penjelasan Hadis
  • Makna dari setiap lafaz hadis.
  •  (وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ)Maksudnya adalah sumpah yang diucapakan oleh Rasulullah ﷺ. Hal itu berarti bahwa perkara yang akan disebutkan setelahnya memiliki kedudukan yang mulia, yaitu keimanan.
  •  (لَايَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ)Maksudnya adalah tidaklah mendengar tentangku dari umat ini (baik di zaman Rasulullah ﷺ  maupun zaman setelahnya).[19]
  • يَهُوْدِيٌّ وَلَانَصْرَانِي)) Maksudnya adalah baik dari Kaum Yahudi maupun Nasrani. Hadis tersebut menyebutkan keduanya secara khusus karena mereka merupakan ahli kitab. Yaitu kaum yang diberikan kitab suci oleh Allah ﷻ. Sehingga perintah untuk taat dan patuh kepada risalah Rasulullah ﷺ yang dibebankan atas mereka lebih berat dari kaum-kaum yang lain.[20]
  •  (ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِه إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّار)ِ Maksudnya adalah kaum yang hidup di zaman Rasulullah ﷺ atau yang hidup setelahnya, kemudian meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang beliau bawa, maka termasuk penghuni neraka.[21]
  • Pelajaran dari hadis

Hadis tersebut memiliki pelajaran dan faidah yang benyak, diantaranya adalah:

  • Kewajiban beriman dengan risalah Nabi Muhammad ﷺ dibebankan kepada seluruh manusia bahkan jin sekalipun. Risalah beliau ﷺ juga berlaku di setiap zaman dan tempat.[22] Ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah ﷻ kepada seluruh manusia, yaitu:

أَخْبَرَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ((أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً)).

Telah mengabarkan kepada kami Jabir bin ‘Abdillah, bahwasanya Nabi Muhammad telah bersabda: “Aku diberikan (oleh Allah ) lima perkara yang mana tidak diberikan kepada seorang (nabi) sebelumku. (kelima perkara itu adalah) Aku diberikan pertolongan (oleh Allah ) dengan ru’bi (yaitu rasa takut yang Allah masukkan ke dalam hati orang-orang musyrik)[23] selama satu bulan. Bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan suci bagiku, maka siapa saja dari umatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah ia melaksanakan shalat. Dihalalkan harta rampasan perang bagiku, yang mana tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku. Aku diberikan syafaat (oleh Allah). Dan seluruh nabi diutus hanya untuk kaumnya saja, sedangkan Aku diutus untuk seluruh manusia.”[24]

  • Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ menghapuskan ajaran agama sebelumnya.[25] Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[26]

  • Penyebutan Kaum Yahudi dan Nashrani dalam hadis tersebut merupakan peringatan bagi kaum-kaum yang mengaku memiliki ajaran sendiri (membuat agama baru).[27] Allah ﷻ berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.”[28]

  • Kaum yang belum menerima dakwah Nabi Muhammad ﷺ tidak akan mendapat hukuman dari Allah ﷻ.[29] Allah ﷻ berfirman:

وَمَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”[30]

  • Siapapun yang tidak beriman dengan risalah Nabi Muhammad ﷺ, maka ia kafir dan kekal di neraka[31] (apabila ia meninggal dan belum sempat bertaubat kepada Allah ﷻ). Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, sehingga onta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”[32]

Muhammad Yusriel Amien

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Karim

Abu Bakar ‘Abdushomad bin Bakar, Al-Madkhol ila Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar wa al-Hukmu ‘Alaiha, Cet. II; Madinah: Dar ath-Thorofin, 1432 H.

Adz-Dzahabi, Syamsudin Muhammad bin Ahmad, Siyar A’lam an-Nubala, Beirut: Muassasah ar-Risalah, t.th.

Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, Cet. I; Kairo: Dar al-Hadits, 1416 H.

Al-‘Asqolani, Ibnu Hajar, Al-Isobah fi Tamyiz ash-Shohabah, Cet. III; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1426 H.

Al-‘Asqolani, Ibnu Hajar, Fath al-Bari fi Syarhi Shahih al-Bukhori, Cet. III; Damam: Dar Ibn al-Jauzi, 1425 H.

Al-‘Asqolani, Ibnu Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Cet. I; Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1429 H.

Al-Azhari, Abu Manshur Muhammad, Mu’jam Tahdzib al-Lughoh, Cet. I; Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1422 H.

Al-Barr, Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdillah bin ‘Abdi, Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashhab, Cet. II; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1422 H.

Al-Bazar, Abu Bakar Ahmad bin ‘Amr, Musnad al-Bazzar, Cet. I; Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 1416 H.

Al-Bukhori, Abu ‘Abdillah Muhammad Ibnu Isma’il, Shahih al-Bukhori, Cet. II; Riyadh: Dar as-Salam, 1419 H.

Al-Bushiri, Ahmad bin Abu Bakar, Ithaf al-Khoiroh al-Maharoh bi Zawaid al-Masanid al-‘Asyroh, Cet. I; Riyadh: Maktabah Rusyd, 1419 H.

Al-Hajaj, Abul Husain Muslim bin, Shahih Muslim, Riyadh: Maktabah Rusyd, 1422 H.

Al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali al-Muttaqi, Kanzul ‘Ummal fi Sunani al-Aqwal wa al-Af’al, Cet. I; Beirut: ar-Risalah al-‘Alamiah, 1433 H.

Al-Ityubi, ‘Ali bin Adam bin Musa, Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajaj fi Syarhi sahih al-Imam Muslim bin al-Hajaj, Cet. I; Damam: Dar Ibn al-Jauzi, 1428 H.

Al-Mizzi, Abul Hajaj Jamaluddin, Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal, Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1425 H.

Al-Qathan, Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Ibn, Bayanu al-Wahm wa al-Iham al-Waqi’in fi Kitab al-Ahkam, Cet. I; Riyadh: Dar Toibah, 1418 H.

An-Nasai, Abu ‘Abdurrohman Ahmad bin Syu’aib, Kitab as-Sunan al-Kubro, Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1411 H.

An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syarof, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Cet. II; Kairo: Muasasah Qurtuba, 1414 H.

Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Cet. III; Beirut: Dar Ehia al-Tourath al-Arabi, t.th.

Johan Peter Mari Mensing, Al-Mu’jam al-Mufahros li Alfazhi al-Hadits an-Nabawi, Leiden: E. J. Brill, 1943.


[1] Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab (Cet. III; Beirut: Dar Ehia al-Tourath al-Arabi, t.th.), juz. 4, hlm. 54-55.

[2] Abu Bakar ‘Abdushomad bin Bakar, Al-Madkhol ila Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar wa al-Hukmu ‘Alaiha (Cet. II; Madinah: Dar ath-Thorofin, 1432 H), hlm. 14.

[3] Johan Peter Mari Mensing, Al-Mu’jam al-Mufahros li Alfazhi al-Hadits an-Nabawi (Leiden: E. J. Brill, 1943), juz. 2, hlm. 537.

[4] Abul Husain Muslim bin al-Hajaj, Shahih Muslim (Riyadh: Maktabah Rusyd, 1422 H), kitab al-Iman, bab Wujub al-Iman bi Risalati Nabiyyina Muhammad , no. 240, hlm. 47.

[5] ‘Alauddin ‘Ali al-Muttaqi al-Hindi, Kanzul ‘Ummal fi Sunani al-Aqwal wa al-Af’al (Cet. I; Beirut: ar-Risalah al-‘Alamiah, 1433 H), no. 280, juz. 1, hlm. 72.

[6] Ahmad bin Hanbal, al-Musnad (Cet. I; Kairo: Dar al-Hadits, 1416 H), no. 8188, juz. 8, hlm. 235.

[7] Abu Bakar Ahmad bin ‘Amr al-Bazar, Musnad al-Bazzar (Cet. I; Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 1416 H), no. 3050, juz. 8, hlm. 58.

[8] Ahmad bin Abu Bakar al-Bushiri, Ithaf al-Khoiroh al-Maharoh bi Zawaid al-Masanid al-‘Asyroh (Cet. I; Riyadh: Maktabah Rusyd, 1419 H), no. 136, jld. 1, hlm. 117.

[9] Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Ibn al-Qathan, Bayanu al-Wahm wa al-Iham al-Waqi’in fi Kitab al-Ahkam (Cet. I; Riyadh: Dar Toibah, 1418 H), no. 332, hlm. 339.

[10] Syamsudin Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala (Beirut: Muassasah ar-Risalah, t.th.), no. 126, juz. 2, hlm. 578.

[11] Abu Manshur Muhammad al-Azhari, Mu’jam Tahdzib al-Lughoh (Cet. I; Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1422 H), jld. 4, hlm. 3748.

[12] Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdillah bin ‘Abdi al-Barr, Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashhab (Cet. II; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1422 H), juz. 4, hlm. 333.

[13] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Al-Isobah fi Tamyiz ash-Shohabah (Cet. III; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1426 H), no. 10680, juz. 7, hlm. 353.

[14] Ibid., hlm. 354.

[15] Ibid., hlm. 357.

[16] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Tahdzib at-Tahdzib (Cet. I; Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1429 H), juz. 4, hlm. 602.

[17] Abu ‘Abdurrohman Ahmad bin Syu’aib an-Nasai, Kitab as-Sunan al-Kubro (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1411 H), no. 5870, juz. 3, hlm. 440.

[18] Abul Hajaj Jamaluddin al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1425 H), no. 8315, jld. 11, hlm. 581.

[19] Abu Zakariya Yahya bin Syarof an-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi (Cet. II; Kairo: Muasasah Qurtuba, 1414 H), juz. 2, hlm. 248.

[20] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajaj fi Syarhi sahih al-Imam Muslim bin al-Hajaj (Cet. I; Damam: Dar Ibn al-Jauzi, 1428 H), jld. 4, hlm. 243.

[21] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajaj fi Syarhi sahih al-Imam Muslim bin al-Hajaj, jld. 4, hlm. 243-244.

[22]  Ibid., hlm. 245.

[23] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fath al-Bari fi Syarhi Shahih al-Bukhori (Cet. III; Damam: Dar Ibn al-Jauzi, 1425 H), jld. 2, hlm. 16.

[24] Abu ‘Abdillah Muhammad Ibnu Isma’il al-Bukhori, Shahih al-Bukhori (Cet. II; Riyadh: Dar as-Salam, 1419 H), kitab at-Tayamum, no. 335, hlm. 58.

[25] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajaj fi Syarhi sahih al-Imam Muslim bin al-Hajaj, jld. 4, hlm. 245.

[26] QS. Ali Imran: 85.

[27] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, loc. cit.

[28] QS. As-Syuraa: 21.

[29] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, loc. cit.

[30] QS. Al-Isra: 15.

[31] ‘Ali bin Adam bin Musa al-Ityubi, op. cit. hlm. 246.

[32] QS. Al-A’raf: 40.

Leave a Reply